Kejadian Aneh Di Villa, Pacarku Berbulu Lebat !

Kejadian Aneh Di Villa, Pacarku Berbulu Lebat !

Halo perkenalkan nama saya heru santoso dari Jakarta.Saya ingin bercerita sedikit mengenai kisah perjalanan saya ke bandung.

Sebenarnya lebih tepatnya bukan perjalanan tapi liburan.
Pada waktu itu saya beserta teman kampus sepakat untuk mengisi liburan akhir tahun ke daerah bandung. Melalui perundingan dan musyawarah teman-teman, akhirnya diputuskan untuk pergi ke villa bandung didaerah lereng gunung tangkuban perahu.

Kami pun berangkat bersama-sama dengan ditemani pasangan masing-masing.

Sesampainya di villa bandung pada sore hari, kami pun merasa lega karena tempat yang disewa pun terasa nyaman dan asri. Dengan pemandangan landscape yang indah dan pohon beringin yang besar di depan rumah membuat hawa udara menjadi segar pada sore hari itu.

Hari pun berganti menjadi malam, kami mengisi waktu dengan bermain kartu, bermain gitar, bahkan ada yang hanya menonton tv dan ngobrol dengan pasangannya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, kami semua terasa mengantuk dan kami putuskan untuk tidur di kamar masing-masing.

Hana pacarnya Feri tidur dilantai atas bersama Serli sekamar, sedangkan Rahma pacar saya tidur dilantai bawah. Begitupun dengan para cowok (saya dan Dika) tidur di lantai bawah bersebelahan dengan kamar Rahma, sedangkan Feri berada di kamar lantai atas bersebelahan dengan kamar Hana dan Serli.

Kamipun berada di masing-masing kamar sendiri, hingga akhirnya saya dan Dika terlelap tidur.

Namun… ketika tidur,kami tiba-tiba mendengar ada suara wanita yang menangis diluar, semakin lama suara itu semakin terdengar keras dan lama.

Mendengar itu, saya pun terbangun dan membangunkan Dika, lalu menanyakan padanya :”lu dengar ada wanita menangis gak Dik?”.
“Iya her, gw denger”. Kata Dika.

“Nangisnya kenceng ya Dik, Ayo kita periksa keluar”, kata saya.
Ternyata suara tangisan itu didengar juga oleh teman-teman saya, sehinga mereka juga keluar, kecuali Feri.

Suara tangisan yang kami dengar sepertinya dari pohon beringin besar yang berada di depan rumah. “iya, tidak salah lagi, memang dari situ suaranya”. Kata dika.

Tapi pada saat kami menuju pada pohon itu, suara tangisan tiba-tiba berhenti. Dan kami pun merasa merinding.

Akhirnya dengan keheranan, kami kembali ke dalam rumah.
Namun… sebelum kami membuka pintu depan rumah, tiba-tiba kami di kagetkan dengan suara keras tawa khas kuntilanak yang bersumber dari lantai atas disertai dengan suara langkah lari.

Dan ternyata itu adalah Feri yang lari seperti orang ketakutan. Dengan keringat bercucuran dia berlari mengahmpiri kami.

Sambil terengah-engah dia bilang “ada kuntilanak diatas” dengan nada seperti orang gugup dan terengah-engah.

Hana yang merupakan pacar Feri mencoba menenangkannya, setelah feri tenang, kemudian dia menceritakan.

“Tadi itu gw bangun ke kamar mandi, pas gw keluar kamar, gw denger Hana manggil-mangil gw dari kamarnya, lalu gue jalan ke kamar cewe gue.

Ku buka pintu kamarnya, kamarnya itu gelap banget sama ada bau aroma melatinya gitu.., gue nyalain hape buat senter, gue sorot kearah tempat tidur, dan ternyata gue lihat ada cewe gue lagi tidur sendiri dengan tertutup selimut. Dalam hati, “kok sendiri gak bareng Serli ”.

Gue gak curiga apa-apa tuh, paling si Serli lagi ke kamar mandi.
Gue berjalan menuju ranjang tidurnya, gue duduk di bibir ranjang. Gw bilang.. “Han.., ada apa manggil-manggil?”, tapi gak ada jawaban.

Trus gue diem mainin Hape, sekitar 1 menitan, gue angkat selimut di kakinya, gue pegang kaki hana. Gue kaget !!, kok kakinya kaya kaki orang mati, dingin banget gak ada aliran darahnya. Trus gue kayak ngerasa megang rambut yang tebal diantara kakinya, di iringi suara cekikikan… gue arahin sinar hp kearah kepalanya, lalu apa yang terjadi…??!!

Itu bukan Hana. Itu perempuan yang mukanya seram ketutup sama rambut panjang dengan acak-acakan, gw gak tahu itu siapa. Gw langsung lari ke luar kamar sambil kedengeran suara ketawa yang keras. Gw turun kalian semua udah ada disini.

Setelah mendengar cerita Feri itu, kami semua merinding. Kami pun tetap berada diteras depan rumah sambal membaca doa-doa yang kami bisa sehingga gangguan itu hilang. Kami pun tidur diteras, udaranya dingin sekali meskipun kami sudah memakai jaket.

Keesokan harinya kami pun segera berkemas meninggalkan villa itu dan kami menceritakan kejadian malam itu pada pemilik villa.

Dan kata pemilik villa, dulu ternyata bangunan ini milik seorang belanda yang sudah puluhan tahun terbengkalai, pemilik villa itu membelinya kemudian merenovasinya sehinga rumahnya tetap kokoh dan indah kemudian disewakan sebagai villa.

Katanya juga, mungkin penunggu itu tidak senang kepada pemuda yang suka berbuat kurang sopan disini, karena biasanya orang yang menginap di sini merasa tidak pernah mengalami kejadian aneh seperti yang kami alami.

Itulah keterangan dari pemilik villa, memang diantara pengunjung yang menginap ada yang suka berpacaran dan suka mojok berduaan ditempat yang sepi, entah apa yang mereka lakukan.

Tapi yang jelas, peristiwa itu menjadikan kami mempunyai pengalaman mistis yang bisa kami jadikan sebagai pelajaran untuk kedapannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *