Pengalaman Nyata Diganggu Genderuwo di Makam Keramat

Pengalaman Nyata Diganggu Genderuwo di Makam Keramat

Pengalaman yang saya alami ini terjadi ketika Saya masih kelas 2 SMP. Sekitar tahun 1999, di kota Saya saat itu adalah masa tenar-tenarnya silat tenaga dalam. Seingat Saya pada masa itu banyak sekali perguruan tenaga dalam yang berdiri.

Di kampung, teman-teman Saya juga banyak yang bergabung ke perguruan tenaga dalam. Kurang keren rasanya kalau anak laki-laki di dusun kami tak gabung perguruan tenaga dalam.

Setiap kali kami berkumpul, yang selalu kami bahas selalu seputar tenaga dalam, dunia gaib, melihat setan, atau uji nyali di punden.

Selain bahasan itu, biasanya kami begitu antusias membicarakan latihan tenaga dalam dari guru kami. Setiap usai dari perguruan dan dapat satu jurus dari guru kami, bergegas kami kumpul bareng dan latihan bersama.

Sampai pada suatu ketika kami sepakat untuk iseng latihan di malam hari di area makam keramat. Awalnya Saya gamang untuk ikut rencana kawan Saya, tapi karena ogah disebut pengecut. Maka bergegaslah kami berlima latihan tenaga dalam di tempat angker itu.

Sampai saat ini, Saya sendiri tak tahu sosok yang dikuburkan di makam keramat tersebut. Kata orang-orang, itu makam salah satu abdi dalem kerajaan Brawijaya V. Entahlah, yang jelas tempat itu memang sangat wingit.

Makam tersebut berbeda dengan makam pada umumnya. Berbentuk gundukan batu bata berlumut, di bagian ujungnya terdapat satu nisan diikat kain putih lusuh.

Di area makam keramat ini, di bagian utara ada tanah kebun kosong. Bagian selatan ada rerumpunan bambu apus, dan di bagian barat terdapat saluran air yang lebih mirip sungai kecil.
Tepat pukul 11 malam kami berlima berangkat ke tanah kosong di samping makam keramat. Pagi hari sebelumnya kami sepakat untuk puasa mutih. Dan malamnya kami latihan tenaga dalam ke tempat wingit itu.

Berbekal senter dan lampu spirtus, kami memberanikan diri ke sana. Suasananya memang sangat sepi, gelap, dan bikin merinding.

Salah satu teman saya, yang paling besar, langsung di duduk di tanah. Itu tandanya, kita memulai latihan dengan olah meditasi dan pernafasan. Baru beberapa menit kami latihan meditasi. Terdengar suara : “Gedebuk!”

Keras sekali. Sampai-sampai kami berlima terkaget. Membuat konsenstrasi kami buyar.

“Cuma kelapa jatuh”. Kata teman Saya menenangkan kami berempat.
“Gedebuk!”
Suara jatuh yang kedua, dan kami tidak mempedulikan suara itu.
Terdengar lagi suara ketiga.

Kali ini dibarengi suara seperti anak kecil tertawa. Tahu ada yang aneh, kami kaget bukan kepalang. Teman Saya yang paling besar, mengambil senter diarahkan ke area makam, tak ada apapun dan tak terlihat hal yang aneh. Hanya nisan berbalut kain.
Meski begitu, suara anak kecil tertawa tadi sudah membuat nyali Saya benar-benar menciut.

Kami sepakat menghentikan latihan saat itu juga dan memutuskan untuk pulang. Belum sempat Saya berdiri, terdengar lagi suara aneh. Kali ini suaranya mirip kakek-kakek menggumam.

Lalu tercium bau aneh, baunya mirip rambut terbakar. Saat Saya menoleh ke arah rerimbunan bambu, terlihat dua cahaya merah dari kegelapan. Mirip bola mata menyala.

Dari rerimbunan bambu itu perlahan-lahan muncul sosok hitam tinggi besar. Matanya merah, giginya runcing seperti drakula.

Tidak hanya Saya yang melihat makhluk itu, teman Saya yang lain juga melihatnya.

Kami langsung lari tunggang langgang. Saya benar-benar kapok main malam-malam di tempat makam keramat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *